-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 5, No. 5, 2016:
3106 - 3133 ISSN : 2302-8912
PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, UKURAN REKSA DANA,
DAN UMUR REKSA DANA TERHADAP KINERJA REKSA DANA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui signifikansi pengaruh inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana
saham, dan umur reksa dana saham pada kinerja reksa dana saham yang
terdaftar di bursa efek Indonesia.
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan
reksa dana saham. Metode penentuan
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling, dengan kriteria reksa dana saham yang tanggal
efektif lebih dari 5 tahun diperdagangkan. Berdasarkan kriteria tersebut
diperoleh sampel sebanyak 20 perusahaan. Data dalam penelitian ini menggunakan
metode observasi non participant yaitu
mengambil data pada Bursa Efek Indonesia.Model analisis yang digunakan adalah
regresi linear berganda dengan temuan bahwa
inflasi berpengaruh negatif
terhadap kinerja reksa dana saham, suku bunga berpengaruh negatif terhadap
kinerja reksa dana saham, ukuran reksa dana saham berpengaruh positif terhadap
kinerja reksa dana saham, dan umur reksa dana saham berpengaruh positif terhadap kinerja reksa
dana saham.
Kata kunci: kinerja reksa dana saham,
inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham, umur reksa dana saham
ABSTRACT
This study aims to determine the significance of the effect of inflation,
interest rates, equity fund size,
and age of mutual fund shares in
fund performance shares listed on the Indonesian stock exchange. This research was conducted at the company's equity
funds. The sampling method used in this research is the method nonprobability
sampling with purposive sampling technique, with the criteria of equity funds
that the effective date of more than
five years of trading. Based on these criteria obtained a sample of 20
companies. The data in this study using non- participant observation that
retrieve data on the Stock Exchange Indonesia.Model analysis used is multiple linear regression
with the finding that inflation negatively affect the performance of mutual fund shares, interest rates
negatively affect the performance of mutual fund shares, the size of mutual
funds positive effect on the stock performance of mutual fund shares, and age equity fund positively affects
the performance of mutual fund shares.
Keywords: performance equity fund, inflation, interest rates, equity fund size,
age equity fund
PENDAHULUAN
Perkembangan
investasi yang semakin maju terutama investasi di pasar modal Indonesia menjadi
salah satu alternatif investasi yang menguntungkan. Masyarakat atau investor
masih banyak yang memiliki masalah dalam memilih instrumen investasi yang tingkat pengembalian
dan risikonya sesuai dengan keinginan investor atau pemodal. Salah satu
investasi yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah reksa dana.
Reksa
dana merupakan salah satu alternatif menghimpun dana dari masyarakat, investasi reksa dana merupakan investasi yang
disebarkan pada sekian alat investasi yang diperdagangkan di pasar modal dan
pasar uang seperti saham, obligasi dan commercial
paper. Reksa dana mulai dikenal pertama kali di Belgia pada tahun 1822 yang
berbentuk reksa dana tertutup. Pada tahun 1860, reksa dana mulai menyebar ke
Inggris dan Skotlandia dalam bentuk Unit
Investmen Trust dan pada tahun 1920 mulai dikenal di Amerika Serikat dengan
nama Mutual Fund, kemudian reksa dana
mulai diperdagangkan di Indonesia sejak tahun 1995 dengan diterbitkannya
Undang-undang no. 8 tahun 1995 tentang pasar
modal.
Reksa
dana juga merupakan salah satu
alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan
pemodal yang tidak memiliki waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas
investasi mereka (Darmadji,2011;165). Investor pada reksa dana, dapat membeli
penyertaan atas kumpulan efek yang dikelola oleh manajer investasi yang
berpengalaman dengan tujuan untuk mendapatkan
keuntungan. Rahardjo (2004:73)
mengungkapkan bahwa manajer investasi adalah pihak
yang mengelola portofolio efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio
investasi kolektif untuk sekelompok
nasabah kecuali perusahaan
asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jensen (1968) mengatakan
konsep kinerja portofolio dibagi menjadi dua yaitu, pertama kemampuan manajer
portofolio atau analisis sekuritas untuk meningkatkan return portofolio melalui prediksi yang tepat tentang harga sekuritas
di masa yang akan datang, kedua kemampuan manajer portofolio untuk meminimalkan
risiko yang muncul dari kepemilikan portofolio. Kepemilikan
reksa dana dengan return yang tinggi
berasal dari pengalaman manajer investasi dalam mengelola reksa dana tersebut
Evans (2008).
Alternatif
reksa dana yang dapat dimiliki oleh masyarakat ada empat antara lain. Pertama, reksa dana pasar uang yaitu
reksa dana yang melakukan investasi pada efek pasar uang seperti efek-efek
hutang yang berjangka kurang dari satu tahun. Kedua, reksa dana pendapatan
tetap yaitu reksa dana yang
melakukan investasi dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat
hutang seperti obligasi. Ketiga, reksa dana saham yaitu reksa dana yang
melakukan investasi sekurang-kurangnya
dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat ekuitas (saham).
Terakhir, reksa dana campuran yaitu reksa dana yang melakukan investasi dalam
efek ekuitas dan efek hutang yang alokasinya tidak termasuk di dalam kategori
reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Investor bisa mendapatkan
manfaat dengan berinvestasi
dari setiap jenis reksa dana, pengambalian yang diinginkan serta risiko yang
kecil di dalam setiap jenis reksa dana yang berbeda (Roy dan Ghosh, 2013).
Reksa dana saham tentunya lebih berfluktuasi dibandingkan reksa dana obligasi atau jenis lainnya karena sebagian besar portofolionya diinvestasikan pada saham yang sifatnya fluktuatif. Pertimbangan utama investor pada umumnya adalah kinerja historis, Pratomo dan Nugraha (2009) mengatakan pertimbangan lainnya adalah risiko, besarnya biaya, tinggi rendahnya harga atau nilai aktiva bersih (NAB)/unit, besarnya aset yang dikelola reksa dana (ukuran reksa dana), laporan investasi dan komunikasi dengan manajer investasi.
Penilaian terhadap kinerja reksa dana saham penting dilakukan, karena dengan melakukan penilaian terhadap kinerja reksa dana saham dapat mengetahui kemampuan reksa dana dalam menghasilkan keuntungan dan bersaing dari reksa dana jenis lainnya. Return dari reksa dana dikenal dengan nilai aktiva bersih (NAB) dimana nilainya akan diperbarui setiap hari berdasarkan hasil transaksi reksa dana pada hari tersebut. Besarnya NAB dari suatu reksa dana merupakan alat ukur untuk menilai kinerja reksa dana. Terdapat beberapa metode dalam pengukuran kinerja reksa dana yang berkaitan dengan return dan risiko (risk-adjusted performance) salah satunya dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Trisnopati (2015) menyatakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana saham adalah stock selection dan market timing. Widya (2011) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah expense ratio, turnover ratio, ukuran reksa dana,dan cash flow, penelitian ini juga didukung oleh Panjaitan (2011) yang menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham adalah expense ratio, turnover ratio dan ukuran reksa dana. Mashari (2009) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah indeks harga saham gabungan (IHSG) dan suku bunga. Maulana (2013) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah suku bunga dan inflasi. Ambarwati (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksa dana saham dengan kinerja pasar menggunakan metode Sharpe. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham, penelitian ini menggunakan 4 faktor atau variabel yaitu inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham, dan umur reksa dana saham. pemilihan keempat faktor ini karena faktor tersebut perlu diperhatikan terlebih dahulu oleh investor untuk mengetahui prospek kinerja reksa dana saham dan adanya hasil penelitian sebelumnya yang berbeda-beda sehingga peneliti tertarik untuk menguji kembali pengaruh inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham, dan umur reksa dana saham terhadap kinerja reksa dana saham.
Menurut Sukirno (2010:14) Inflasi adalah suatu proses kenaikan harga yang berlaku secara umum dalam perekonomian. Inflasi merupakan kecenderungan harga naik secara terus menerus, semakin tinggi kenaikan harga maka nilai dari mata uang akan menurun dan akan mempengaruhi perkembangan dari portofolio. Pasaribu (2014) mengatakan inflasi merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian manajer investasi dalam pertimbangannya, khususnya dengan perkembangan nilai aktiva bersih suatu reksa dana. Susetyo (2013) dalam penelitiannya inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja reksa dana saham sedangkan menurut Akbar (2005) dalam penelitiannya inflasi tidak berpengaruh terhadap return reksa dana saham dikarenakan inflasi adalah kenaikan harga barang secara terus menerus sehingga mempengaruhi kondisi pasar yang membuat inflasi dapat diatasi oleh praktisi.
Suku bunga adalah persentase yield pada sekuritas keuangan seperti obligasi dan saham Pasaribu (2014). Tingkat bunga ditentukan dengan penawaran dan permintaan akan uang yang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi sepanjang uang mempengaruhi tingkat suku bunga. McTaggart (2003) mengatakan suku bunga juga diartikan sebagai jumlah dana yang diterima oleh pihak yang memberi pinjaman dan dibayarkan dalam bentuk persentase dari jumlah pinjaman. Archania (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa suku bunga berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja reksa dana saham. Sedangkan penelitian menurut Mutholib (2005) menyatakan bahwa suku bunga tidak berpengaruh tehadap kinerja reksa dana saham. Ukuran (size) reksa dana saham dapat dilihat dari besarnya total NAB. Menurut Galagher (1988) Semakin besar ukuran aset yang dikelola akan memberikan fleksibilitas, meningkatkan bargaining power serta memudahkan terciptanya economies of scale yang dapat berdampak pada penurunan biaya sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja. Penelitian yang dilakukan oleh Philpot et al (1998 ) menyatakan bahwa ukuran memiliki hubungan positif signifikan dengan kinerja reksa dana sedangkan, See dan Josh (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran dana berhubungan negatif terhadap kinerja reksa dana. Korelasi tersebut menunjukkan bahwa dana yang lebih besar cenderung memiliki rasio biaya yang lebih rendah.
Umur reksa dana saham jika semakin tua umur dana maka semakin baik kinerja reksa dana tersebut. Karena pengalaman yang dimiliki cukup untuk dapat dipercaya sebagai instrumen dan pengelola dana investor sehingga memberikan return yang diharapkan oleh investor. Track record yang panjang dapat memberikan gambaran yang baik kepada investornya. Penelitian yang dilakukan Gregory (1997) menyatakan usia memiliki hubungan positif terhadap kinerja reksa dana sebaliknya, penelitian yang dilakukan See dan Josh (2012) menunjukkan tidak ada hubungan antara usia reksa dana dengan kinerja reksa dana.
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh inflasi terhadap kinerja Reksa Dana (2) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh suku bunga terhadap kinerja Reksa Dana (3) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh ukuran Reksa Dana terhadap kinerja Reksa Dana (4) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh umur Reksa Dana terhadap kinerja Reksa Dana.
Reksa dana saham tentunya lebih berfluktuasi dibandingkan reksa dana obligasi atau jenis lainnya karena sebagian besar portofolionya diinvestasikan pada saham yang sifatnya fluktuatif. Pertimbangan utama investor pada umumnya adalah kinerja historis, Pratomo dan Nugraha (2009) mengatakan pertimbangan lainnya adalah risiko, besarnya biaya, tinggi rendahnya harga atau nilai aktiva bersih (NAB)/unit, besarnya aset yang dikelola reksa dana (ukuran reksa dana), laporan investasi dan komunikasi dengan manajer investasi.
Penilaian terhadap kinerja reksa dana saham penting dilakukan, karena dengan melakukan penilaian terhadap kinerja reksa dana saham dapat mengetahui kemampuan reksa dana dalam menghasilkan keuntungan dan bersaing dari reksa dana jenis lainnya. Return dari reksa dana dikenal dengan nilai aktiva bersih (NAB) dimana nilainya akan diperbarui setiap hari berdasarkan hasil transaksi reksa dana pada hari tersebut. Besarnya NAB dari suatu reksa dana merupakan alat ukur untuk menilai kinerja reksa dana. Terdapat beberapa metode dalam pengukuran kinerja reksa dana yang berkaitan dengan return dan risiko (risk-adjusted performance) salah satunya dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Trisnopati (2015) menyatakan faktor yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana saham adalah stock selection dan market timing. Widya (2011) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah expense ratio, turnover ratio, ukuran reksa dana,dan cash flow, penelitian ini juga didukung oleh Panjaitan (2011) yang menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham adalah expense ratio, turnover ratio dan ukuran reksa dana. Mashari (2009) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah indeks harga saham gabungan (IHSG) dan suku bunga. Maulana (2013) menyatakan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana adalah suku bunga dan inflasi. Ambarwati (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja reksa dana saham dengan kinerja pasar menggunakan metode Sharpe. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham, penelitian ini menggunakan 4 faktor atau variabel yaitu inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham, dan umur reksa dana saham. pemilihan keempat faktor ini karena faktor tersebut perlu diperhatikan terlebih dahulu oleh investor untuk mengetahui prospek kinerja reksa dana saham dan adanya hasil penelitian sebelumnya yang berbeda-beda sehingga peneliti tertarik untuk menguji kembali pengaruh inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham, dan umur reksa dana saham terhadap kinerja reksa dana saham.
Menurut Sukirno (2010:14) Inflasi adalah suatu proses kenaikan harga yang berlaku secara umum dalam perekonomian. Inflasi merupakan kecenderungan harga naik secara terus menerus, semakin tinggi kenaikan harga maka nilai dari mata uang akan menurun dan akan mempengaruhi perkembangan dari portofolio. Pasaribu (2014) mengatakan inflasi merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian manajer investasi dalam pertimbangannya, khususnya dengan perkembangan nilai aktiva bersih suatu reksa dana. Susetyo (2013) dalam penelitiannya inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja reksa dana saham sedangkan menurut Akbar (2005) dalam penelitiannya inflasi tidak berpengaruh terhadap return reksa dana saham dikarenakan inflasi adalah kenaikan harga barang secara terus menerus sehingga mempengaruhi kondisi pasar yang membuat inflasi dapat diatasi oleh praktisi.
Suku bunga adalah persentase yield pada sekuritas keuangan seperti obligasi dan saham Pasaribu (2014). Tingkat bunga ditentukan dengan penawaran dan permintaan akan uang yang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi sepanjang uang mempengaruhi tingkat suku bunga. McTaggart (2003) mengatakan suku bunga juga diartikan sebagai jumlah dana yang diterima oleh pihak yang memberi pinjaman dan dibayarkan dalam bentuk persentase dari jumlah pinjaman. Archania (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa suku bunga berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja reksa dana saham. Sedangkan penelitian menurut Mutholib (2005) menyatakan bahwa suku bunga tidak berpengaruh tehadap kinerja reksa dana saham. Ukuran (size) reksa dana saham dapat dilihat dari besarnya total NAB. Menurut Galagher (1988) Semakin besar ukuran aset yang dikelola akan memberikan fleksibilitas, meningkatkan bargaining power serta memudahkan terciptanya economies of scale yang dapat berdampak pada penurunan biaya sehingga akan berdampak positif terhadap kinerja. Penelitian yang dilakukan oleh Philpot et al (1998 ) menyatakan bahwa ukuran memiliki hubungan positif signifikan dengan kinerja reksa dana sedangkan, See dan Josh (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran dana berhubungan negatif terhadap kinerja reksa dana. Korelasi tersebut menunjukkan bahwa dana yang lebih besar cenderung memiliki rasio biaya yang lebih rendah.
Umur reksa dana saham jika semakin tua umur dana maka semakin baik kinerja reksa dana tersebut. Karena pengalaman yang dimiliki cukup untuk dapat dipercaya sebagai instrumen dan pengelola dana investor sehingga memberikan return yang diharapkan oleh investor. Track record yang panjang dapat memberikan gambaran yang baik kepada investornya. Penelitian yang dilakukan Gregory (1997) menyatakan usia memiliki hubungan positif terhadap kinerja reksa dana sebaliknya, penelitian yang dilakukan See dan Josh (2012) menunjukkan tidak ada hubungan antara usia reksa dana dengan kinerja reksa dana.
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh inflasi terhadap kinerja Reksa Dana (2) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh suku bunga terhadap kinerja Reksa Dana (3) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh ukuran Reksa Dana terhadap kinerja Reksa Dana (4) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh umur Reksa Dana terhadap kinerja Reksa Dana.
Inflasi merupakan penurunan nilai mata uang atau
naiknya harga barang dan jasa secara keseluruhan, karena apabila inflasi suatu
Negara tinggi maka investor akan lebih
berhati-hati dalam menanamkan sahamnya.Sehingga jika inflasi meningkat maka kinerja reksa dana akan menurun
begitu pula sebaliknya, yang mengakibatkan investor kurang tertarik dalam
menanamkan modal ketika inflasi sedang tinggi.
Berkaitan dengan pengukuran inflasi terhadap kinerja reksa dana saham
tersebut, maka perlu diketahui
tentang tingkat inflasi
adalah presentase perubahan
dalam tingkat harga. Susetyo (2013) mengungkapkan inflasi memiliki pengaruh
negatif terhadap kinerja reksa dana saham, sedangkan menurut Akbar (2005)
inflasi tidak berpengaruh terhadap reksa dana saham dikarenakan inflasi adalah
kenaikan harga barang secara terus menerus sehingga mempengaruhi kondisi pasar
dan membuat inflasi dapat diatasi oleh praktisi. Berdasarkan penjelasan
tersebut dapat ditarik hipotesis:
H1: Inflasi
berpengaruh negatif terhadap kinerja Reksa Dana Saham.
Menurut Eric E. Haas (2004) salah satu instrumen yang
dapat mempengaruhi atau memotivasi masyarakat maupun pengusaha untuk menabung
dan melakukan investasi adalah suku bunga. Suku bunga yang dikeluarkan oleh
bank sentral digunakan untuk mengontrol peredaran uang di masyarakat, dengan
meningkatnya suku bunga akan berdampak pada lesunya investasi dan aktivitas
ekonomi sehingga menyebabkan turunnya kinerja reksa dana saham. Menurut
Archania (2012) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa variabel suku bunga
berpengaruh negatif terhadap kinerja reksa dana saham, sedangkan menurut
Mutholib (2005) menyatakan bahwa suku bunga tidak berpengaruh terhadap kinerja
reksa dana saham. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditarik hipotesis:
H2: Suku
bunga berpengaruh negatif terhadap Kinerja Reksa Dana Saham.
Semakin besar ukuran aset yang dikelola memberikan
fleksibilitas, meningkatkan bargaining
power serta memudahkan terciptanya economies
of scale yang dapat berdampak pada penurunan biaya yang sehingga akan
berdampak positif terhadap kinerja (Galagher,1998). Menurut Elton dan Gruber (1995) besar kecilnya ukuran suatu reksa dana akan mempresentasikan jumlah kapitalisasi pasar
reksa dana. Banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat pengaruh ukuran yang
lebih besar akan menyebabkan risiko yang dihadapi oleh perusahaan akan lebih
kecil dibandingkan dengan risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang lebih
kecil. See dan Josh (2012) ukuran reksa dana yang lebih besar dapat menikmati
skala ekonomi yang menyebabkan biaya rendah sehingga memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan
dengan ukuran dana yang lebih kecil, hasil menunjukkan bahwa ukuran berpengaruh
positif mempengaruhi kinerja reksa dana. Penelitian yang dilakukan Suppa-aim
(2010) menyatakan bahwa ukuran reksa dana memiliki pengaruh positif terhadap
kinerja reksa dana saham, hasil tersebut didukung oleh penelitian Panjaitan
(2011) yang menyatakan ukuran reksa dana berpengaruh terhadap kinerja reksa
dana saham.Berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditarik hipotesis:
H3: Ukuran
Reksa Dana berpengaruh Positif Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham.
Reksa dana yang memiliki usia yang lebih lama memiliki
pengalaman yang lebih banyak dibandingkan dengan yang masih baru, semakin lama
usia reksa dana semakin banyak pengalama manajer investasi akan menghasilkan
kinerja yang lebih baik. Menurut Otten dan Bams (2002) menunjukkan pengaruh
antara usia reksa dana terhadap kinerja reksa dana. Kinerja reksa dana yang
lebih muda tidak lebih baik dibandiangkan dengan usia reksa dana yang lebih
tua. Menurut Peterson (2001) adanya pengaruh positif terhadap usia reksa dana
dengan kinerja reksa dana yang dimana tingkat pengembalian reksa dana usia
lebih muda cenderung lebih rendah dibandingkan
dengan reksa dana
dengan usia yang
lebih tua. Reksa
dana yang memiliki umur yang lebih lama akan memiliki track record yang lebih panjang, maka dari itu akan dapat
memberikan gambaran kinerja yang lebih baik
kepada investornya. Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik
hipotesis:
H4: Umur Reksa Dana berpengaruh positif terhadap
Kinerja Reksa Dana Saham.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendeketan
kuantitatif. Metode ini merupakan metode penelitian yang berupa angka-angka dan
analisis menggunakan statistik, penelitian ini bersifat asosiatif dimana
menggambarkan hubungan antar dua variabel atau lebih (Sugiyono,2013:30)
sehingga dapat mengetahui hubungan antara Inflasi,Suku Bunga, Ukuran Reksa
Dana, dan Umur Reksa Dana terhadap Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia.
Kerangka konseptual penelitian ini dapat
dilihat pada gambar.
Lokasi penilitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar dan masih aktif dalam reksa dana terutama reksa dana saham yang dapat di akses di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Bursa Efek Indonesia dan juga perusahaan yang menyediakan data- data tentang reksa dana. Alasan memilih reksa dana saham karena diantara empat jenis reksa dana, reksa dana saham lebih menguntungkan untuk investasi yang berjangka panjang. Objek penelitian ini adalah data inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana, umur reksa dana dan kinerja reksa dana saham dari tahun 2011 sampai 2014.
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya.Variabel terikat disini adalah kinerja reksa dana saham. Kinerja reksa dana adalah besarnya return yang diperoleh atas investasi dikenal dengan istilah nilai aktiva bersih (NAB) yang terdaftar di bursa efek Indonesia atau otoritas jasa keuangan. Pada penelitian ini, metode perhitungan return atas reksa dana yang digunakan adalah metode Sharpe. Menurut Sharpe (1966) metode ini didasarkan pada risk premium (excess return) yaitu selisih antara rata-rata kinerja investasi yang bebas risiko.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data kuantitatif. Data kuantitatif tersebut adalah data reksa dana saham yang
ada di Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keungan periode 2011-2014. Sumber
data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang tidak
langsung diperoleh dari perusahaan, tetapi data tersebut diperoleh dari www.idx.co.id, www.ojk.go.id.
Populasi adalah sekumpulan data yang memiliki karakteristik
yang sama atau sejenis. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
seluruh perusahaan reksa dana saham yang
terdaftar di bursa efek Indonesia selama periode 2011-2014 adalah 142
perusahaan. Sampel adalah sebagian populasi yang terdiri dari beberapa anggota yang dipilih dari populasi
(Sugiyono,2013:116). Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan tujuan
mendapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Kriteria yang
digunakan untuk memilih sampel yaitu perusahaan reksa dana saham dilihat dari
tanggal efektif yang lebih dari 5 tahun sudah diperdagangkan karena reksa dana
tersebut sudah mengalami pasang surut sehingga dapat memberikan penjelasan
tentang kinerja reksa dana tersebut.
Keterangan Total
Sumber: data sekunder diolah, (2015)
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah obsevasi non partisipan yaitu pengamatan dan pengamatan data yang berupa laporan portofolio yang diperoleh dari www.ojk.go.id, www.idx.co.id, dan literature yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Jika dalam penelitian terdapat dua atau lebih variabel independen, maka untuk melihat pengaruh hubungan antara variabel dependen terhadap variabel independen digunakan metode analisis regresi linear berganda. Adapun persamaan regresi digambarkan sebagai berikut:
Pengujian asumsi klasik merupakan pengujian untuk
menentukan ketepatan dari model yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut
ini merupakan beberapa pengujian yang dapat dilakukan untuk mengetahui asumsi
klasik terpenuhi atau tidak, yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji
kolinearitas serta uji heteroskedastisitas
Lokasi penilitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar dan masih aktif dalam reksa dana terutama reksa dana saham yang dapat di akses di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Bursa Efek Indonesia dan juga perusahaan yang menyediakan data- data tentang reksa dana. Alasan memilih reksa dana saham karena diantara empat jenis reksa dana, reksa dana saham lebih menguntungkan untuk investasi yang berjangka panjang. Objek penelitian ini adalah data inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana, umur reksa dana dan kinerja reksa dana saham dari tahun 2011 sampai 2014.
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya.Variabel terikat disini adalah kinerja reksa dana saham. Kinerja reksa dana adalah besarnya return yang diperoleh atas investasi dikenal dengan istilah nilai aktiva bersih (NAB) yang terdaftar di bursa efek Indonesia atau otoritas jasa keuangan. Pada penelitian ini, metode perhitungan return atas reksa dana yang digunakan adalah metode Sharpe. Menurut Sharpe (1966) metode ini didasarkan pada risk premium (excess return) yaitu selisih antara rata-rata kinerja investasi yang bebas risiko.
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
variabel lain. Variabel bebas pada
penilitian ini adalah inflasi (X1), suku bunga (X2), ukuran reksa dana (X3),
dan umur reksa dana (X4). Inflasi didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan
harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Inflasi menunjang kenaikan harga di reksa dana saham yang ada di Indonesia
yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dalam satuan persentase dan dihitung
setiap bulan dari bulan januari 2011 sampai Desember 2014 yang dapat diperoleh
dari www.bi.go.id.
Suku bunga adalah salah satu instrumen
moneter yang dapat mempengaruhi
masyarakat maupun pengusaha untuk melakukan investasi, diterbitkan oleh Bank
Indonesia yang dijadikan sebagai
tingkat bunga standar oleh bank pemerintah dan bank swasta (Rismawati, 2013).
Dalam penelitian ini satuan ukuran yang digunakan adalah persentase dihitung
setiap bulan dari bulan Januari 2011 sampai Desember 2014 yang dapat diperoleh dari
www.bi.go.id.
Ukuran reksa dana merupakan salah satu alat ukur reksa
dana berdasarkan dana yang dikelola. Ukuran reksa dana dapat dilihat
berdasarkan nilai aktiva bersih bulanan. Aktiva bersih dihitung dengan
mengurangkan kewajiban dari total aktiva reksa dana. Setelah nilai aktiva
bersih diperoleh kemudian diubah ke dalam bentuk Ln, agar nilainya tidak
terlalu besar bila dibandingkan dengan variabel yang lain. Nilai aktiva bersih
sudah tersedia di Bapepam-LK atau OJK. Umur reksa dana merupakan kategori yang
berjenis numerik, dalam penelitian ini usia reksa dana saham dari
setiap reksa dana dihitung sejak tanggal efektif reksa dana tersebut
diperdagangkan hingga akhir periode penelitian.
Tabel 1.
Proses Pemilihan Sampel
1)
Perusahaan reksa dana saham yang terdaftar di BEI periode penelitian 2011- 2013 142
2) Perusahaan reksa dana saham
yang tanggal efektif kurang dari 5 tahun
terakhir (122)
3) Berdasarkan kriteria
sampel tersebut terdapat jumlah perusahaan reksa dana saham sebesar 20
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah obsevasi non partisipan yaitu pengamatan dan pengamatan data yang berupa laporan portofolio yang diperoleh dari www.ojk.go.id, www.idx.co.id, dan literature yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Jika dalam penelitian terdapat dua atau lebih variabel independen, maka untuk melihat pengaruh hubungan antara variabel dependen terhadap variabel independen digunakan metode analisis regresi linear berganda. Adapun persamaan regresi digambarkan sebagai berikut:
Y = α + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + ei
Keterangan :
Y = kinerja reksa dana saham
α
= Konstanta
b = slope atau koefisien regresi
X1 = Inflasi
X2 = suku bunga
X3 = ukuran
reksa dana saham
X4 = umur reksa dana saham
.
Pengujian deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran umum tentang
sampel. Deskripsi sampel berupa nilai minimum, nilai maksimum, nilai
pengukuran, rata-rata dengan deviasi standar. Hasil analisis deskriptif data
dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut.
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
residual dalam model regresi yang dibuat berdistribusi normal ataukah tidak.
Model regresi yang baik adalah memiliki
distribusi residual yang normal atau mendekati normal. Jika berdistribusi tidak
normal, maka prediksi yang dilakukan dengan menggunakan model tersebut akan memberikan hasil yang menyimpang.
Unst.
Residual
Tabel 3 yang merupakan hasil dari output SPSS menunjukkan tingkat signifikansi data Sig. (2-tailed) adalah 0,199 lebih besar dari
0,05 sehingga menunjukkan data berdistribusi secara normal, maka model pertama
dinyatakan memenuhi asumsi uji normalitas.
Uji autokorelasi bertujuan untuk melacak adanya
korelasi auto atau pengaruh data pengamatan sebelumnya dalam model regresi.
Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan Uji Durbin-Watson (DW-test). Jika nilai Dw test sudah ada, maka nilai tersebut dibandingkan dengan nilai tabel tingkat keyakinan sebesar 5%
Nilai DW sebesar 1,825. Nilai dU untuk jumlah sampel
80 dengan 4 variabel bebas adalah 1.74. Maka nilai 4 – dU adalah 2,26, sehingga
hasil uji autokorelasinya adalah dU < DW < 4 – dU yaitu 1.74 <
1.825< 2.26, maka model regresi yang dibuat tidak mengandung gejala
autokorelasi.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa
dana saham. Apabila inflasi meningkat maka kinerja reksa dana saham akan
menurun. Hal ini menunjukkan inflasi
berdampak pada menurunnya kinerja reksa dana saham. Harga jual yang tinggi
menyebabkan menurunnya daya beli investor untuk reksa dana saham karena
investor mengutamakan kebutuhan pokok, sehingga mempengaruhi keuntungan
perusahaan dan harga reksa dana saham yang menurun berdampak pada kinerja
reksa dana saham.
Suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila suku bunga meningkat maka kinerja reksa dana saham akan menurun. Hal ini menunjukkan suku bunga berdampak pada menurunnya kinerja reksa dana saham. Peningkatan suku bunga membuat sebagian besar masyarakat atau investor mengalihkan dananya dari reksa dana saham ke insturmen lain karena sebagian besar investor menjadikan return sebagai alat ukur dalam investasi.
Ukuran reksa dana saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila ukuran reksa dana saham meningkat tidak mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Hal ini menunjukkan ukuran reksa dana saham yang besar tidak berdampak pada kinerja reksa dana saham. Besar kecilnya ukuran reksa dana yang dimiliki oleh reksa dana saham tidak berdampak pada perubahan kinerja reksa dana saham, serta ukuran tidak dapat dijadikan acuan bagi investor ketika berinvestasi pada reksa dana saham
Umur reksa dana saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila umur reksa dana saham meningkat tidak mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Hal ini menunjukkan umur reksa dana saham yang lebih tua tidak berdampak pada kinerja reksa dana saham. Umur yang lebih muda akan berusaha untuk mendapatkan perhatian investor untuk menginvestasikan dana mereka dan membuat manajer investasi lebih berhati-hati dalam menyusun produk reksa dana saham.
Berdasarkan hasil simpulan diatas maka saran yang dapat diberikan adalah perusahaan atau manajer investasi sebaiknya memperhatikan inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham dan umur reksa dana saham untuk menarik minat para investor, sehingga akan meningkatkan kinerja reksa dana saham. Peneliti-peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti dengan menggunakan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana saham
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 2.
Hasil Analisis Deskriptif
N
|
Minimum
|
Maksimum
|
Mean
|
Std.
Deviation
|
|
Kinerja RD
|
80
|
-0.88
|
2.81
|
0.5211
|
1.10414
|
Inflasi
|
80
|
4.60
|
5.38
|
4.9775
|
0.29394
|
Suku Bunga
|
80
|
4.42
|
7.04
|
5.9425
|
0.99101
|
Ukuran RD
|
80
|
24.07
|
30.04
|
26.8353
|
1.71654
|
Umur RD Valid N (listwise)
|
80
80
|
5.90
|
18.50
|
11.9050
|
3.87873
|
Sumber : data sekunder diolah, (2016)
Variabel Inflasi (X1) menunjukkan rata-rata sebesar
4.9775 dan nilai standar deviasi sebesar 0.29394. Nilai standar deviasi yang lebih rendah dari rata-rata memiliki
arti variasi atau kesenjangan data tersebut
rendah. Nilai minimum sebesar4.60 terjadi pada tahun 2014 dan nilai maksimum sebesar 5.38 terjadi pada
tahun 2011. Variabel Suku Bunga (X2) menunjukkan rata-rata sebesar 5.9425 dan
nilai standar deviasi sebesar 0.99101. Nilai standar deviasi yang lebih rendah
dari rata-rata memiliki arti variasi atau kesenjangan data tersebut rendah. Nilai minimum sebesar4.42 pada tahun 2012 dan nilai maksimum sebesar 7.04 pada tahun 2014.
Variabel Ukuran Reksadana Saham
(X3) menunjukkan rata-rata
sebesar 26.8353 dan nilai standar deviasi sebesar 1.71654. Nilai standar deviasi yang lebih rendah
dari rata-rata memiliki arti variasi atau kesenjangan data tersebut rendah. Nilai minimum sebesar
24.07 terdapat pada perusahaan CIMB-Principal Equity Aggressive pada
tahun 2011 dan nilai maksimum sebesar 30.04 terdapat pada Schroder Dana
Prestasi Plus pada tahun 2011. Variabel Umur Reksadana Saham (X4) menunjukkan
rata-rata sebesar 11.9050 dan nilai standar deviasi sebesar 3.87873. Nilai standar
deviasi yang lebih rendah dari rata-rata memiliki arti variasi atau kesenjangan
data tersebut rendah. Nilai minimum sebesar 5.90 terdapat pada RHB OSK Reksa
Dana Ekuitas Prima pada tahun 2011 dan nilai maksimum sebesar 18.50 terdapat
pada Dana Reksa Mawar pada tahun 2014.
Tabel 3.
Hasil
Uji Normalitas
N 80
Normal
Parameters(a,b) Mean 0.0000000
Std. Deviation 0.83045244
Most Extreme Absolute 0.12
Differences Positive 0.105
Negative -0.12
Kolmogorov-Smirnov Z 1.074
Asymp. Sig. (2-tailed) 0.199
Sumber : data sekunder diolah, (2016)
Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan Uji Durbin-Watson (DW-test). Jika nilai Dw test sudah ada, maka nilai tersebut dibandingkan dengan nilai tabel tingkat keyakinan sebesar 5%
Tabel 4.
Hasil Analisis Uji
Autokorelasi
Model Durbin-Watson
1 1.825
Sumber : data sekunder diolah, (2016)
SIMPULAN DAN SARAN
Suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila suku bunga meningkat maka kinerja reksa dana saham akan menurun. Hal ini menunjukkan suku bunga berdampak pada menurunnya kinerja reksa dana saham. Peningkatan suku bunga membuat sebagian besar masyarakat atau investor mengalihkan dananya dari reksa dana saham ke insturmen lain karena sebagian besar investor menjadikan return sebagai alat ukur dalam investasi.
Ukuran reksa dana saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila ukuran reksa dana saham meningkat tidak mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Hal ini menunjukkan ukuran reksa dana saham yang besar tidak berdampak pada kinerja reksa dana saham. Besar kecilnya ukuran reksa dana yang dimiliki oleh reksa dana saham tidak berdampak pada perubahan kinerja reksa dana saham, serta ukuran tidak dapat dijadikan acuan bagi investor ketika berinvestasi pada reksa dana saham
Umur reksa dana saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Apabila umur reksa dana saham meningkat tidak mempengaruhi kinerja reksa dana saham. Hal ini menunjukkan umur reksa dana saham yang lebih tua tidak berdampak pada kinerja reksa dana saham. Umur yang lebih muda akan berusaha untuk mendapatkan perhatian investor untuk menginvestasikan dana mereka dan membuat manajer investasi lebih berhati-hati dalam menyusun produk reksa dana saham.
Berdasarkan hasil simpulan diatas maka saran yang dapat diberikan adalah perusahaan atau manajer investasi sebaiknya memperhatikan inflasi, suku bunga, ukuran reksa dana saham dan umur reksa dana saham untuk menarik minat para investor, sehingga akan meningkatkan kinerja reksa dana saham. Peneliti-peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti dengan menggunakan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana saham
REFERENSI
Akbar, Pratama. 2005. Analisis Pengaruh Variabel
MakroEkonomi terhadap ReturnSaham.Tesis
Alexandri, Mohammad B. 2014. Analisis Karakteristik,
Kinerja dan Persistensi Reksa Dana Saham di Indonesia. Journal of Economics and Business,Vol. 4, No. 1
Ambarwati.2007.
Analisis Perbandingan Kinerja Reksa Dana Saham Dengan Kinerja Pasar (IHSG)
Melalui Pendekatan Sharpe dan Treynor. Tesis
Archania, Ila. 2012. Pengaruh SukuBunga SBI, PDB Kurs Dan
Jumlah Uang Yang Beredar Terhadap Kinerja ReksadanaSaham Dan Reksadana
Pendapatan Tetap.Tesis.
Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhruddin, 2011. Pasar Modal di Indonesia, Salemba
Emapat, Jakarta.
Elton, Edwin J.;
Gruber, Martin J. 1995. Fundamental Variables, APT, and Bond Fund Performance. Journal of Finance 50:1229-1256
Eric E. Haas. 2004. Mutual Fund Expenses Ratios: How
High is Too High. Journal Financial
Planning. Vol.17, September,2004,p 54
Evan, A.L. 2008. Portfolio Manager Ownership and
Mutual Fund Performance.Financial Management 37:3,p 513-534
Galagher, Timothy J.
1998. Mutual Fund
size and Risk-
adjusted Performance.
Illionis Business Review, Vol. 45,p. 11-13
Gregory,A.
J. Matako, dan R. Luther. 1997.
Ethical Unit Trust Financial
performance: small company effects and fund
size effect. Journal of Business Finance and Accounting 24, 705-725
Jensen C. Michael. 1968. The
Performance of Mutual Fund in the Period
1945-1946.
Journal of
Finance.23,2,p.389-415
Mashari, Muhammad.2009. Analisis Pengaruh
IHSG,SBI,Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham
Periode Januari 2005-2007.
Maulana, Akbar.2013.
Pengaruh SBI, Jumlah Uang beredar, Inflasi Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham di
Indonesia 2004-2012.
McTaggart, Douglas, Findlay, Christoper, Parkin,
Michael.2003. Economis 4th edition.United
State of America : Addison-Wesley.
Mutholib, Abdul. 2005. AnalisisPengaruh Variabel
MakroEkonomi Terhadap Tingkat Kinerja Reksadana SahamPeriode 1998-2004.Tesis
Otten R., D. Bams. 2002.
European mutual fund performance. European
Financial Management 8, 75-101.
Panjaitan,Osin.2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Reksa Dana Saham Dengan Metode Sharpe di Bursa Efek Indonesia. Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Skripsi
Pasaribu Rowland dan Kowanda Dionysia. 2014. Pengaruh suku bunga SBI,
Tingkat inflasi, IHSG, dan Bursa Asing terhadap tingkat pengembalian reksa dana
saham. Jurnal akuntansi dan manajemen
Peterson, J., P.
Pietranico, M. Riepe, dan F. Xu. 2001. Explaining the performance of domestic
equity mutual fund. Journal of Investing 10,
81-92
Philpot,James,Heart,Douglas,Rimbey,James N,dan Schulman Craig T..
1998. Active Management, Fund Size, And Bond Mutual Return. The Financial Review. Vol.33,No.2, Mei 1998, p. 115-126
Pratomo, E. P. &
Nugraha, U. (2005). Reksadana Solusi Perencanaan Investasi di Era Modern.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka.
Rahardjo, Sapto. 2004. Panduan Investasi Reksa Dana. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Rismawati. 2013.
Pengaruh Pertumbuhan aset, Tingkat Suku Bunga SBI, Terhadap Kebijakan Dividen
dan Nilai Perusahaan Pada BEI. Skripsi
Roy, subrata
dan Ghosh, shantanu.2013. Can Mutual Fund Predict The Future? An Empirical
Study. Journal of Commerce and Accounting
Research. Vol. 2,p. 1- 9
See, Yong
Pui and Ruzita, Josh.2012. Fund
Characteristics And Fund Performance: Evidence of Malaysian Mutual Fund.International Journal of Economics and
Management Sciences. Vol.1,No. 9,2012, P 31-43
Sharpe F.
William. 1966. Mutual Fund Performance.
Journal of Busniess. Vol 39. P.
119-138
Sugiyono. 2013. Metode
Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung
Sukirno,Sadono. 2010. Makroekonomi
Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. Suppa-Aim, Teerapan.2010. Mutual
Fund Performance In
Emerging Market: The
Case Of Thailand. The University of Birmingham. Thesis
Susetyo, Kharisma.2013. Analisa Pengaruh Inflasi
terhadap Kinerja Reksa dana Saham di Indonesia Periode 2002-2012. Jurnal Scribd
Trisnopati,Farida Titik. 2015. Pengaruh Stock Selection, Market
Timing, Dan Ukuran Reksa Dana Saham Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham (Studi
Kasus Pada Reksa Dana Saham Yang Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan
2011-2014). Jurnal of Economics and
Business Universitas Telkom
Utami, Maria Lidwina. 2014. Faktor Eksternal dan Internal Yang
Mempengaruhi Return Investasi Produk Reksa Dana Campuran di Indonesia. Journal Media dan Ekonomi Vol. 29 no.2
Juli 2014
Widya,
Evalarazke.2011. Pengaruh Expense Ratio, Turnover Ratio, Ukuran Reksa dana dan
Cash flow terhadp Kinerja Reksa dana Periode 2005-2007.
Winingrum, Evi Putri.2011. Analisi Stock Selection Skills, Market
Timing Ability, Size Reksa dana, Umur Reksa Dana dan Expense Ratio
terhadap kinerja Reksa Dana Saham yang
terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2006-2010. Skripsi
No comments:
Post a Comment