FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KUALITAS AUDIT
Latar
Belakang
Pada era globalisasi saat ini banyak sekali terjadi
kasus-kasus hukum yang melibatkan manipulasi akuntansi. Skandal manipulasi akuntansi
ini melibatkan sejumlah perusahaan besar di Amerika seperti Enron, Tyco, Global
Crossing, dan Worldcom maupun beberapa perusahaan besar di Indonesia seperti
Kimia Farma dan Bank Lippo yang dahulunya mempunyai kualitas audit yang tinggi.
Kasus seperti ini melibatkan banyak pihak dan berdampak cukup luas.
Keterlibatan Chief Executive Officer (CEO), komisaris, komite audit,
internal auditor, sampai kepada eksternal auditor salah satunya dialami oleh
Enron, cukup membuktikan bahwa kecurangan banyak dilakukan oleh orang-orang
dalam. Terungkapnya skandal-skandal sejenis ini menyebabkan merosotnya
kepercayaan masyarakat khususnya masyarakat keuangan, yang salah satunya
ditandai dengan turunnya harga saham secara drastis dari perusahaan yang
terkena kasus.
Selain dari pihak perusahaan, eksternal auditor juga harus
turut bertanggung jawab terhadap merebaknya kasus-kasus manipulasi akuntansi
seperti ini. Posisi akuntan publik sebagai pihak independen yang memberikan
opini kewajaran terhadap laporan keuangan serta profesi auditor yang merupakan
profesi kepercayaan masyarakat juga mulai banyak dipertanyakan apalagi setelah
didukung oleh bukti semakin meningkatnya tuntutan hukum terhadap kantor
akuntan. Padahal profesi akuntan mempunyai peranan penting dalam penyediaan
informasi keuangan yang handal bagi pemerintah, investor, kreditor, pemegang
saham, karyawan, debitur, juga bagi masyarakat dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan.
Dalam melaksanakan tugasnya, auditor memerlukan kepercayaan
terhadap kualitas jasa yang diberikan pada pengguna. Penting bagi pemakai
laporan keuangan untuk memandang Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai pihak yang
independen dan kompeten, karena akan mempengaruhi berharga atau tidaknya jasa
yang telah diberikan oleh KAP kepada pemakai. Jika pemakai merasa KAP
memberikan jasa yang berguna dan berharga, maka nilai audit atau kualitas audit
juga meningkat, sehingga KAP dituntut untuk bertindak dengan profesionalisme
tinggi.
Selain beberapa faktor di atas, faktor akuntabilitas dan
etika profesional juga dapat berpengaruh terhadap kualitas hasil audit. Andre
Ruchiyat (2008:64) mendefinisikan akuntabilitas sebagai suatu keadaan yang
dapat dipertanggungjawabkan, bertanggungjawab, dan akuntable. Djuni
Farhan (2009:11) Akuntan publik dalam melaksanakan tugas profesinya, dibatasi
oleh seperangkat aturan dan standar, berupa kode etik. Standar moral dan etika
tersebut tidak hanya mengatur bagaimana ia bertindak, bersikap dan mentaati
standar/norma, atau bukan hanya mengatur yang “boleh” dan “tidak boleh” saja,
tetapi pada tatanan “salah” dan “benar” dengan parameter atau ukuran etika
profesi, dan secara moral dibenarkan.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu
penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu
populasi. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan
yang berkaitan dengan current status dari subjek yang diteliti
(Indriantoro dan Supomo, 2002 : 26 & 29). Menurut Uma Sekaran (2006:121),
populasi adalah keseluruhan kelompok orang, kejadian atau hal minat yang ingin
peneliti investigasi.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan survey untuk mendapatkan data
primer. Data primer diperoleh
dengan cara memberikan kuesioner secara langsung kepada responden yang
bersangkutan, serta memberikan penjelasan secara singkat sebelum responden
menjawab pertanyaan dalam kuesioner. Responden yang diminta kesediaan untuk
mengisi kuesioner adalah auditor independen di sepuluh Kantor Akuntan Publik di
Jakarta Barat.
Operasionalisasi
Variabel Penelitian
Variabel Independen
(X)
Variabel independen adalah variabel yang dianggap
berpengaruh terhadap variabel yang lain. Variabel independen dalam penelitian
ini terdiri dari variabel independensi, pengalaman, due profesional care,
akuntabilitas dan etika.
Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen
adalah variabel yang tergantung atau dapat dipengaruhi oleh variabel lain.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas audit (Y). Standar Umum
dalam Standar Akuntansi menyatakan bahwa : Pertama, audit dilakukan oleh
seorang atau lebih yang mempunyai keahlian dan pelatihan teknis yang cukup
sebagai auditor; Kedua, Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan,
independensi sikap mental harus dipertahankan oleh seorang auditor; Ketiga,
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya seorang auditor harus
menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Berdasarkan hal
tersebut di atas, penelitian ini menggunakan pertanyaan sebagai indikator
sebagai berikut :
(1)
independensi, (2) pengalaman auditor, (3) skeptisme profesional, (4) tanggung
jawab auditor, (5) etika auditor.
Semua item pertanyaan diukur pada skala Likert (Licert Scale) 1 sampai 5. Menurut Nazir M. (2005) skala likert (licert scale) adalah sebuah skala untuk mengukur sikap masyarakat. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen dalam penelitian ini mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yaitu : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Sumber Data
Dalam
penelitian ini peneliti melakukan survey untuk mendapatkan data primer, yaitu
dengan cara mengirimkan kuesioner secara langsung kepada responden yang
bersangkutan, serta memperikan penjelasan secara singkat sebelum responden
menjawab pertanyaan dalam kuesioner. Responden diminta kesediaan untuk mengisi
kuesioner adalah auditor independen beberapa perusahaan Kantor Akuntan Publik
di Jakarta Barat tahun 2011.
Sampel
Pengambilan
sampel dalam penelitian ini menggunakan cara Simple Random Sampling,
yaitu pemilihan sampel secara acak sederhana yang memberikan kesempatan yang
sama dan tak terbatas pada setiap anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel
(Indriantoro dan Supomo, 2002 :124). Penentuan sampel dalam penelitian ini
disesuaikan dengan jumlah auditor pada masing-masing Kantor Akuntan Publik di
Wilayah Jakarta Barat.
Teknik Pengumpulan
Data
Data
yang dipergunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu : (1)
Data primer, merupakan data yang dikumpulkan atau berhubungan langsung dengan
penelitian yang sedang dilakukan; (2) Data sekunder, merupakan data yang
dijadikan sebagai pendukung data primer. Data ini diperoleh melalui literatur
yang dimaksudkan untuk memperoleh landasan teoritis.
Dalam rangka memperoleh, mengumpulkan dan menyusun data yang
diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai
berikut : (1) Penelitian Lapangan (Field Research), adalah peninjauan
langsung pada auditor independen yang dijadikan sampel untuk memperoleh data
primer. Data primer ini dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, yaitu
memperoleh data dengan menggunakan daftar pernyataan mengenai independensi,
pengalaman, due profesional care, akuntabilitas, etika, dan kualitas
audit; (2) Penelitian Kepustakaan (Library Research), penggunaan studi
kepustakaan adalah untuk memperoleh data sekunder yang berguna sebagai pedoman
teoritis pada saat penelitian lapangan, dan untuk mendukung serta menganalisis
data. Daftar kepustakaan diperoleh dari buku-buku wajib, jurnal ilmiah dan
buku-buku pelengkap yang akan digunakan dalam pembahasan dan hasil pada bab
selanjutnya.
Dalam penelitian ini data
diperoleh dengan cara langsung mendatangi responden serta menggunakan metode
kuesioner, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi
seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Untuk
memperoleh data, kuesioner disebarkan kepada para responden, dengan tujuan
untuk memperoleh informasi mengenai suatu masalah. Dengan demikian, kesungguhan
responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan merupakan hal yang sangat
penting dalam penelitian.
Uji
Validitas
Sebuah item atau pernyataan dikatakan valid jika mempunyai
dukungan kuat terhadap skor total. Dengan kata lain item pernyataan dikatakan
mempunyai validitas tinggi jika terdapat skor kesejajaran (korelasi tinggi)
terhadap skor total item.
Bagian dari uji validitas yang dipakai dalam
penelitian ini adalah melalui analisis butir-butir, dimana untuk menguji setiap
butir maka skor total valid tidaknya suatu item dapat diketahui dengan
membandingkan antara angka r- hitung (nilai dari Corrected Item-Total
Correlation) dan angka dari r-tabel. Suatu item dikatakan valid jika
memiliki angka r – hitung (nilai dari Corrected Item-Total Correlation)
> r-tabel.
Uji
Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh hasil
pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan lebih dari dua kali terhadap
gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukuran yang sama. Suatu kuesioner
dikatakan reliable atau handal jika jawaban responden terhadap pernyataan
adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas (keandalan) dilakukan dengan
teknik Alpha. Realibilitas suatu pertanyaan dikatakan baik jika memiliki
nilai Cronbach’s Alpha > dari 0,60 (Uma Sekaran 2003:311).
Untuk menguji reliabilitas instrumen dalam
penelitian ini digunakan koefisien reliability alpha cronbach dengan
menggunakan SPSS. Jika nilai Alpha > 0,06 maka kuesioner dapat dikatakan
memenuhi konsep reliabilitas, sedangkan jika nilai alpha < 0,06 maka tidak
reliabilitas sehingga atas pernyataan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai
alat ukur penelitian.
Analisis
Regresi
Dalam analisis ini dapat dilihat bagaimana variabel bebas, yaitu
independensi (X1), pengalaman (X2), due profesional care (X3), akuntabilitas (X4), dan etika (X5) mempengaruhi (secara positif atau negatif) variabel terikat,
yaitu kualitas audit (Y). Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut (Duwi
Priyatno, 2009:47) :
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e
Dimana :
Y
= Kualitas Audit
b0 =
konstata
b1 =
koefisien regresi variabel independensi
|
b2
|
= koefisien regresi
variabel pengalaman
|
|
b3
|
= koefisien regresi
variabel due profesional care
|
|
b4
|
= koefisien regresi
variabel akuntabilitas
|
|
b5
|
= koefisien regresi
variabel etika auditor
|
|
X1
|
= Independensi
|
|
X2
|
= Pengalaman
|
|
X3
|
= Due
Profesional Care
|
|
X4
|
= Akuntabilitas
|
|
X5
|
= Etika Auditor
|
|
e
|
= Error
|
Pengujian secara
parsial
Uji
t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh satu variabel bebas secara individual
dalam menerangkan variasi variabel terikat (Ghozali, 2005). Pengujian ini
bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas (independensi, pengalaman, due
profesional care, akuntabilitas dan etika auditor terhadap variabel terikat
(kualitas audit) secara terpisah atau parsial.
Hipotesa yang akan
digunakan dalam pengujian ini adalah :
H0 : β0 = 0, variabel-variabel bebas (independensi,
pengalaman, due profesional care, akuntabilitas
dan etika auditor )
tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (kualitas audit) variabel-variabel
bebas (independensi pengalaman, due profesional care, akuntabilitas dan
etika auditor ) berpengaruh terhadap variabel terikat (kualitas audit)
H1 : β1 ≠ 0 ,
Pengujian
secara parsial (terpisah) dapat dilihat dari hasil output dalam table
Coefficients. Hipotesa yang diuji dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
angka probabilitas signifikansi, apabila angka probabilitas signifikansi >
0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Apabila angka probabilitas signifikansi < 0,05,
maka H0
ditolak dan H1 diterima
Pengujian secara
simultan
Uji
F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam
model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Dalam
penelitian ini pengujian hipotesis secara simultan dimaksudkan untuk mengukur
besarnya pengaruh variabel bebas (independensi, pengalaman, due profesional
care, akuntabilitas dan etika auditor) terhadap variabel terikatnya
(kualitas audit).
Hipotesis yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H0:β1=β2=β3=β4=β5=β6=0, maka variabel-variabel bebas
(independensi, pengalaman, due profesional care, akuntabilitas dan etika
auditor) tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya
(kualitas audit)
H0:β1=β2=β3=β4=β5=β6≠0, maka variabel-variabel bebas
(independensi, pengalaman, due profesional care, akuntabilitas dan
etika) berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya (kualitas
audit)
Pengujian yang dilakukan secara simultan (keseluruhan) dapat
dilihat dari hasil output dalam tabel Anova. Hipotesa yang diuji dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan angka probabilitas signifikan, apabila
probabilitas signifikansi > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak, apabila probabilitas
signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Jika signifikan, maka
hipotesis ANOVA dapat diterima bahwa semua variabel bebas (independen,
pengalaman, due profesional care, akuntabilitas dan etika auditor) layak
untuk menjelaskan variabel terikat (kualitas audit) yang dianalisis.
Kerangka Pemikiran
Menurut Uma Sekaran (2006:127), kerangka teoritis merupakan
fondasi dimana seluruh proyek penelitian didasarkan. Kerangka teoritis adalah
jaringan asosiasi yang disusun, dielaborasi secara logis antar variabel yang
dianggap relevan pada situasi masalah dan diidentifikasi melalui proses seperti
wawancara, pengamatan, dan survei literatur.
Konflik kepentingan yang terjadi antara manajemen dengan
pemakai laporan keuangan mengharuskan adanya penengah diantara keduanya.
Auditor independen diharapkan mampu menjadi penengah untuk melakukan audit atas
laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Pengguna laporan keuangan
sangat bergantung kepada pendapat (opini) auditor independen untuk mengambil
keputusan ekonomi. Untuk itu auditor dituntut untuk bertindak dengan
profesionalisme yang tinggi sehingga menghasilkan suatu hasil audit yang
berkualitas.
Auditor independen menawarkan berbagai tingkat kualitas
audit untuk merespon adanya variasi permintaan klien terhadap kualitas audit.
Auditor independen dalam melakukan audit atas laporan keuangan harus memiliki
rasa independensi, pengalaman, due profesional care,
kebertanggungjawaban (akuntabilitas)
dan etika tinggi agar hasil auditnya dapat diandalkan atau berkualitas.
Standar Auditing Seksi 220 (SPAP : 2011) menyebutkan bahwa
indpenden bagi seorang akuntan publik artinya tidak mudah dipengaruhi karena ia
melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum.
Asih (2006 : 12) mengatakan bahwa pengalaman merupakan suatu
proses pembelajaran dan penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik
dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu
proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.
Due profesional care memiliki arti kemahiran professional
care memiliki arti kemahiran profesional yang cermat dan seksama.
Menurut Standar Auditing No. 4 SPAP (2011), kecermatan dan keseksamaan dalam
penggunaan kemahiran profesionalnya menuntut auditor untuk melaksanakan
skeptisme profesional, yaitu sikap auditor yang berpikir kritis terhadap bukti
audit dengan selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi terhadap bukti audit
tersebut.
Diani Mardisar dan Ria Nelly Sari (2007) mendefinisikan
akuntabilitas sebagai bentuk dorongan psikologi yang membuat sesorang berusaha
mempertanggungjawabkan semua tindakan dan keputusan yang diambil kepada
lingkungannnya.
Djuni Farhan (2009 : 4), Akuntan publik dalam melaksanakan
tugas profesinya, dibatasi oleh seperangkat aturan dan standar, berupa kode
etik. Standar moral dan etika tersebut tidak hanya mengatur bagaimana ia
bertindak, bersikap dan mentaati standar/norma, atau bukan hanya mengatur yang
“boleh” dan “tidak boleh” saja, tetapi pada tatanan “salah” dan “benar” dengan
parameter atau ukuran etika profesi, dan secara moral dibenarkan.
Dari penjelasan di
atas dapat diasumsikan, jika dalam diri auditor ditanamkan rasa independensi,
pengalaman, due profesional care, kebertanggungjawaban (akuntabilitas)
dengan diiringi etika auditor maka audit yang akan dihasilkan semakin
berkualitas
Hipotesa
Berdasarkan
kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka hipotesa yang disajikan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
|
H1
|
= Independensi
berpengaruh terhadap kualitas audit
|
|
H2
|
= Pengalaman
auditor berpengaruh terhadap kualitas audit
|
|
H3
|
= Due
Profesional Care berpengaruh terhadap kualitas audit
|
|
H4
|
= Akuntabilitas
berpengaruh terhadap kualitas audit
|
|
H5
|
= Etika auditor
berpengaruh terhadap kualitas auditor
|
|
H6
|
=
Independensi, Pengalaman, Due Profesional Care,
Akuntabilitas dan Etika auditor
|
|
berpengaruh
terhadap kualitas audit
|
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan bahwa
hipotesis 1, 2, 3, 4 dan 5 diterima yaitu bahwa independensi, pengalaman kerja,
due professional care, akuntabilitas dan etika auditor berpengaruh terhadap
kualitas audit. Dengan demikian, semakin independensi auditor, semakin banyak
pengalaman kerja, semakin banyak pengetahuan, semakin tinggi tingkat
akuntabilitas, dan semakin beretika seorang auditor maka semakin baik hasil
kualitas audit yang dilakukan.
Dari hasil perhitungan uji nilai F dapat diambil kesimpulan
bahwa secara serentak, seluruh variable independen tersebut berpengaruh
signifikan terhadap kualitas audit dengan kemampuan menjelaskan terhadap
variable dependen sebesar 98,1%. Hal ini berarti masih terdapat
variable-variabel independen lainnya yang dapat menjelaskan variable kualitas
audit yaitu sebesar 1,9%. Variabel independensi, due profesional care,
akuntabilitas dan etika sangat dominan berpengaruh terhadap kualitas audit
Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu
diperhatikan bagi peneliti yang akan dating, yaitu sebagai berikut :
a.
Ruang lingkup penelitian hanya auditor
di wilayah Jakarta Barat
b. Masih
terdapat variable independen lain yang mempengaruhi variasi dalam variable kualitas
audit yang belum tergali pada penelitian ini
Saran-saran
yang dapat disampaikan
oleh penulis sebagai hasil dari penelitian,
pembahasan,
kesimpulan serta
keterbatasan di atas adalah :
a. Memperbesar
jumlah sampel penelitian
b. Memperluas
lokasi penelitian
c. Melakukan
pengujian lebih lanjut terhadap variable dengan memasukkan variable lain yang
mempengaruhi kualitas audit
Sumber :
http://portal.kopertis3.or.id/bitstream/123456789/1564/1/Analisis%20Faktor-faktor%20yang%20mempengaruhi%20Kualitas%20Audit.pdf
No comments:
Post a Comment