Franchising Hoka Hoka Bento
Latar
Belakang
Franchising
pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan
usaha secara cepat. Sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan
terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, kecuali kerelaan pemilik
merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur
distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya
melalui tangan-tangan franchisee.
Fenomena
yang menarik dibeberapa tahun ini yaitu makin tumbuh suburnya Bisnis Franchise,
terutama pada bidang makanan. Kalau kita amati saat ini banyak sekali usaha
baru yang sangat kreatip menawarkan berbagai jenis produk dan jasa, misalnya
usaha makanan modern. Beberapa diantara mereka membuka gerainya di pusat-pusat
pertokoan atau di jalan utama di lokasi yang strategis di tengah kota.
Hoka-Hoka Bento
hadir sebagai nuansa baru bisnis makanan jepang yang menjawab permintaan pasar
akan adanya sebuah layanan yang memungkinkan konsumen dapat menikmati hidangan
Jepang dengan cita rasa tinggi, dengan harga terjangkau. Hoka-Hoka Bento diharapkan dapat
menjadi leader dalam menghadapi pesaing-pesaing yang telah ada
(franchise-franchise besar baik lokal maupun International)
Dengan jumlah gerai yang semakin lebar saat ini makan Hoka-Hoka Bento menjadi peluang yang
terbuka lebar bagi anda yang ingin mulai usaha dengan invest yang relative
rendah dan terjangkau untuk membuka usaha dengan kelas hidangan bintang lima
dengan harga yang lebih terjangkau oleh setiap kalangan hal ini akan membuat
pasar semakin tertarik untuk mencoba menu yang ada di daerah anda.
Dengan sistem usaha yang telah kami bangun, memungkinkan patner/ para calon
patner usaha dengan mudah dapat mempelajari serta menduplikasikan sistem yang
ada tanpa perlu membangun lagi, sehingga para calon patner dapat lebih mudah
mengembangkan usahanya tanpa perlu memiliki pengalaman tertentu.
Tujuan
Hoka Hoka Bento menyajikan makanan Jepang yang
sehat, variatif, higienis, cepat saji dengan harga terjangkau serta suasana
yang nyaman.
Visi dan misi dari Hoka-Hoka Bento :
VISI :
Leading Japanese Style Food Provider With Best Quality
MISI :
Creating Sollutions for our customers by providing best quality Japanese Style
Foods and Services with Advanced People
Sebagai restoran fastfood dengan ciri khas
Jepang yang mengutamakan kualitas, Hoka-Hoka Bento sangat didukung kualitas
sumber daya manusia yang juga terdepan.
Mengingat masakan jepang sangat khas, baik rasa maupun bahannya. Hoka-Hoka Bento berinovasi dalam
menu dengan harapan mudah diterima pas dengan selera dan rasa orang Indonesia.
manajemen berkomitmen dan memastikan bahwa bahan baku kami dapat dipertanggung jawabkan. Dengan kemasan yang unik kami jual dalam paket lengkap bento. Seperti di negara asalnya produk ini sangat digemari karena kepraktisannya.
Dengan sistem usaha yang telah kami bangun, memungkinkan patner/para calon patner usaha dengan mudah dapat mempelajari serta menduplikasikan sistem yang ada tanpa perlu membangun lagi, sehingga para calon patner dapat lebih mudah mengembangkan usahanya tanpa perlu memiliki pengalaman tertentu.
Keistimewaan resep Hoka-Hoka Bento terutama pada bahan baku yang dipastikan halal dan rasa yang dapat diterima oleh konsumen di Indonesia karena mengingat dinegara asal nya menu yang disajikan dalam outlet kami memiliki cita rasa yang begitu lekat dan khas sehingga kami mengkreasi menu ini sehingga dapat di terima di lidah konsumen dan hal ini yang membedakan Hoka-Hoka Bento dengan para pesaingnya. System Hoka-Hoka Bento yang telah dikembangkan lebih dari 2 tahun terakhir.
Hoka-Hoka Bento melayani pasar mahasiswa, pekerja bisnis, dan pembeli kelas menengah atas dan bawah yang telah terbentuk dan sering mengunjungi tempat makan yang khas. Ditengah lautan outlet menu siap saji saat ini Hoka-Hoka Bento menawarkan menunya yang inovatif dan menarik
Kisah sukses bisnis Hoka Hoka Bento
Berawal dari sebuah gerai mungil di wilayah Kebon Kacang Raya, Jakarta, Hendra
Arifin mengembangkan bisnis resto Hoka Hoka Bento. Kini, resto cepat saji yang
membeli hak nama dari Jepang itu mempunyai 99 gerai dengan omzet sekitar Rp
13,85 miliar per tahun.
Hendra sebagai pemilik PT Eka
Bogainti tertarik mengembangkan resto cepat saji ala Jepang karena pada 1985
konsep itu belum ada di Indonesia. Ia pun melakukan studi banding ke Jepang dan
kemudian membeli izin untuk menggunakan merek dan technical assistance Hoka
Hoka Bento di Indonesia.
“Saat ini, Eka Bogainti memiliki
penuh hak cipta atas merek merek Hoka Hoka Bento. Sementara itu, usaha serupa
dengan merek sama yang ada di Jepang sudah tidak ada lagi,” kata Hendra saat
peluncuran Hokben Delivery Service 500-505 di Jakarta, Kamis (28/5).
Awalnya, Hoka Hoka Bento berbisnis
makanan take away (pesan ambil/ bawa pulang). Konsep take away kemudian diubah
menjadi fast food (cepat saji), mengadopsi tren cara makan yang praktis dan
higienis ala Jepang. ”Layanan semacam itu menjadi solusi bagi masyarakat
Indonesia yang tengah menikmati pembangunan,” ujarnya.
Saat ini, Hoka Hoka Bento
ditangani generasi kedua, anak dari Hendra Arifin yakni Paulus Arifin yang
menjadi direktur operasional PT Eka Bogainti.
Menurut Paulus, dampak krisis
global membuat pengunjung resto sedikit berkurang sehingga ia menerapkan
strategi khusus untuk menarik minat konsumen dengan berbagai menu spesial.
Selain itu, efisiensi terus dilakukan tanpa harus melakukan perampingan tenaga
kerja. Kini, Hoka Hoka Bento mempekerjakan sekitar 4.000 tenaga kerja.
Pengalaman saat krisis moneter
1998 menjadi pelajaran berharga bagi Hoka Hoka Bento sehingga tetap bertumbuh
rata-rata 5-7% per tahun. “Tahun 2009, kami menargetkan pertumbuhan penjualan
sekitar 10%, memang agak sulit tetapi kalau berusaha keras pasti bisa,”
ujarnya.
Meskipun 2009 dipenuhi
ketidakpastian ekonomi, Hoka Hoka Bento berencana menambah satu gerai. “Untuk
menggenapi jadi 100 gerai,” ungkap Hendra. Saat ini, 99 gerai Hoka Hoka Bento
tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Jabodetabek), Bandung, Surabaya,
dan Malang.
Paulus memaparkan, untuk membuka
gerai baru seluas 150-200 meter persegi di mal kawasan Sudirman, Jakarta,
dibutuhkan investasi hampir Rp 1 miliar. Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga
melakukan revitalisasi fisik gerai serta memperkuat manajemen sumber daya
manusia.
Tidak Lirik Waralaba
Hendra menambahkan, Hoka Hoka
Bento tidak berencana berekspansi ke sistem waralaba. Upaya mempertahankan
kualitas layanan menjadi salah satu alasan untuk tidak merambah ke bisnis
waralaba. “Memang menggiurkan tapi kami tidak ingin serakah. Selain itu, bisnis
makanan tergantung pada kualitas layanan,” katanya.
Untuk meningkatkan pelanggan, Hoka
Hoka Bento mengembangkan bisnis pesan antar. Kontribusi penjualan antar-pesan
kini mencapai 30-40% dari total penjualan. “Untuk layanan ini, konsumen
dikenakan biaya Rp 5.000 per antar dan tidak ada batas minimum order,” kata
Paulus.
Secara terpisah, Ketua Dewan
Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy
mengimbau, Hoka Hoka Bento berekspansi ke bisnis waralaba untuk menghindari
dugaan praktik mendominasi pasar. Menurut dia, Komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU) seharusnya menyoroti bisnis-bisnis besar yang menggunakan sistem company
own outlet.
Dengan memiliki company own outlet
, kata dia, resto besar berpotensi menimbulkan praktik persaingan usaha tidak
sehat. “Dia bisa saja mendikte si pemasok karena produk yang disuplai akan
dijual di banyak gerai. Saya menganjurkan Hoka Hoka Bento diwaralabakan saja
sekitar 40%-nya. Toh peminatnya besar dan pasti berkembang pesat,” tutur Amir
kepada Investor Daily.
Secara terpisah, Ketua Umum
Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman (Gapmmi) Thomas Darmawan mengatakan,
segmen pasar Hoka Hoka Bento yang menyasar keluarga kelas menengah menjadi
salah satu nilai tambah. Di sisi lain, kata dia, kampanye Aku Cinta Indonesia
yang juga menyasar ke makanan dinilai dapat menjadi saingan baru bagi restoran-restoran
cepat saji ala makanan khas luar negeri.
Dia memperkirakan, beberapa
restoran kelas atas dan menengah bakal banyak tutup pada 2009 akibat tekanan
krisis ekonomi. Untuk itu, lanjut dia, sudah saatnya pemerintah
mempertimbangkan saran untuk menghapus pajak makanan di restoran, seperti pajak
pertambahan nilai (PPN), pajak daerah, dan pajak restoran.
“Contohnya, makan shabu-shabu di
Indonesia bisa lebih mahal 30-40% dibandingkan Bangkok dengan level restoran
yang sekelas. Bahkan, orang kaya juga mulai berpikir makan di restoran
sekarang,” kata Thomas kepada Investor Daily.
Berdasarkan survei wawancara tatap
muka yang dilakukan oleh Nielsen terhadap 2.029 koresponden di Jakarta,
Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, dan Makassar, sebanyak 894 koresponden
menyatakan pernah makan di luar rumah, sedangkan sisanya belum pernah. Sebanyak
63% mengatakan lebih memilih restoran dengan menu lokal.
Sementara itu, survei on line
terhadap 510 konsumen di kota yang sama menunjukkan, hingga 59% responden lebih
memilih restoran dengan masakan lokal. Sementara itu, sebanyak 17% memilih
masakan Tiongkok sebagai alternatif dan 12% memilih masakan Jepang. Sedangkan
restoran yang menghidangkan masakan Italia (empat persen), masakan Amerika (dua
persen), Perancis (satu persen), dan masakan India (satu persen).
“Hal itu menjadi berita dan
peluang bagus bagi restoran lokal. Sedangkan restoran dengan merek
internasional memiliki tantangan untuk masuk ke pasar dalam negeri,” kata
Executive Director Consumer Research Nielsen Catherine Eddy.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, Franchise itu merupakan duplikasi
bisnis yang telah sukses, sehingga bagi mereka yang akan membeli bisnis
franchise tidak perlu lagi bersusah payah menjalankan bisnis ini dari awal dan
tidak perlu harus jatuh bangun untuk memulai bisnis ini. Mereka hanya
menjalankan sistem yang telah berjalan tinggal start up langsung meneruskan
bisnis yang memang telah teruji keberhasilannya. sebagai contoh
yaitu Hoka-Hoka Bento ini yang merupakan usaha franchise yang sudah
mengalami kesuksesan dan sudah terkenal dikalangan masyarakat internasional
termasuk Indonesia
Referensi :
Kelompok :
Della Embun Mutiara.P (22213145)
Liyudza Riguna (25213021)
Novita Sari (26213563)
DAMPAK POSITIF DARI FRANCHISING BAGI PERTUMBUHAN EKONOMI
DI INDONESIA
Dampak
positifnya yaitu dengan adanya sistem franchising ini makin luasnya peluang
lapangan kerja, dan dengan begitu setidaknya dapat mengurangi tingkat
pengangguran yang ada di indonesia. serta membuka peluang bisnis bagi para
masyarakat yang ingin membuka bisnis dengan modal relatif rendah.
DAMPAK NEGATIF DARI FRANCHISING BAGI PERTUMBUHAN EKONOMI
DI INDONESIA
Banyak para
pedagang kecil yang "gulung tikar" karena usahanya tidak laku akibat
dari kalah bersaing dengan perusahaan waralaba tersebut. Terlupakannya produk – produk
makanan atau minuman dalam negeri
Keuntungan Dari Franchising
Keuntungan dari Franchising ini bagi pemiliknya yaitu :
Keuntungan dari Franchising ini bagi pemiliknya yaitu :
1.
Outletnya dikenal luas oleh masyarakat Indonesia
2.
Menjadi salah satu franchising yang berhasil di pasaran
3.
Banyak membuka outlet – outlet di kota besar
4.
Pemasukan yang tinggi
No comments:
Post a Comment